Sponsored
Wihara Tri Ratna Di Zang Yuan
Vihara Tri Ratna yang merupakan vihara tertua di Kelurahan Kartini. Kelurahan Kartini merupakan salah satu wilayah yang memiliki masyarakat dengan beragam etnis dan budaya.
Bila berada di Jalan Lautze, Sawah Besar, Jakarta Pusat ada banyak klenteng yang berjajar di muka jalanannya. Salah satu yang besar dan tua adalah klenteng Di-cang yuan atau Wihara Tri Ratna.

Dengan warna pagar yang meriah dengan paduan merah, putih dan biru, tentunya cukup mencuri pandangan. Memasuki pelataran Wihara ini, kita akan disambut dengan dua buah patung singa yang diletakkan berseberangan.
Kemudian di sisi tembok halamannya terdapat sebuah patung kura-kura warna emas. Di atasnya terpapar sebongkah batu prasasti berukuran satu setengah kali tinggi manusia dewasa. Telisik punya telisik, batu ini ternyata berasal dari abad ke-18.
Bangunan yang berdiri kokoh hingga sekarang ini menyimpan saksi sejarah peradaban masyarakat Tionghoa sejak ratusan tahun lalu.
Batu ini dibuat pada tahun 1761, berisi sejarah peringatan perluasan pekuburan Gunung Sahari. Prasasti ini merupakan satu-satunya batu peringatan yang tersisa dari abad ke-18.
Menurut tulisan yang dibuat pada tahun 1789 oleh J.J Vogelaar, diuraikan pada dahulu kala klenteng ini difungsikan sebagai tempat untuk upacara-upacara yang berhubungan dengan orang mati.
Upacara tersebut dilangsungkan pada pesta qing-ming atau Pesta Para Arwah. Untuk perayaan Imlek tahun ini, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, akan ada acara khusus yang diadakan di klenteng ini.
Di ruang utama Kelenteng ini terdapat patung delapan belas dewa. "Ini sudah 300 tahun umurnya," ujarnya. Patung ini disebut Arhat atau Lohan, artinya adalah penghancur musuh, yang maknanya untuk menghancurkan nafsu jahat.
Di Kelenteng tua ini juga terdapat patung Di Cang Wang atau Raja Neraka. Konong ini ditahtakan hanya kepada empat klenteng. Salah satunya di Klenteng ini.
Patung Di Cang Wang yang sudah tua dibuat pada abad ke 18, dengan keahlian seni yang tinggi dan apik. Dewa ini seringkali digambarkan tengah duduk di atas seekor singa. Salah satu patung Di Cang Wang tua juga masih berdiri kokoh di klenteng ini.
Di sayap kanan klenteng ini terdapat papan nama orang-orang yang telah meninggal, semua berjajar rapih bertingkat.
Di samping ruangan ini, masih terdapat papan-papan nama, khusus ruangan yang ini, papan namanya menuliskan nama-nama leluhur. "Disini untuk papan nisan orang yang sudah meninggal, jadi namanya di catat. Tapi disini tidak ada abu."
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Sponsored
Pasang Banner Iklan Website anda DISINI









